29 Januari 2016

Book Review: HUJAN by Tere Liye


HUJAN
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Januari 2016
Tebal buku: 320 halaman
Rating: 5 of 5 stars 
Lail, kamu tahu kenapa kita mengenang banyak hal saat hujan turun? Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya.
HUJAN. Kisah dimulai tahun 2050. Seorang perempuan muda berusia 21 tahun, Lail namanya--sedang berada di sebuah ruangan serba putih yang lengang bersama seorang paramedis senior, bernama Elijah. Kedatangannya ke tempat tersebut adalah ingin menghapus semua kenangan menyakitkan yang ia alami selama hidupnya. Sebelum menghapus kenangan tersebut Lail harus memakai sebuah alat seperti bando di kepalanya lalu menceritakan seluruh kisah hidupnya secara detail, dengan begitu paramedis dapat merekam peta saraf otaknya. 
Umat manusia sejatinya sama seperti virus. Mereka berkembang biak cepat menyedot sumber daya hingga habis, kemudian tidak ada lagi yang tersisa.
Kisah Lail di tahun 2042. Saat itu ia berusia tiga belas tahun bersiap-siap berangkat ke sekolah setelah libur panjang. Lail dan Ibunya terburu-buru menuju stasiun kereta bawah tanah. Pada tahun tersebut semua sudah serba canggih. Lail dan Ibunya menaiki kereta kapsul. Tidak perlu membeli tiket masuk, cukup dengan teknologi layar sentuh, pembayaran dilakukan secara otomatis. Pagi itu seharusnya menjadi hari yang menyenangkan. Namun, tidak lagi. Ketika kereta kapsul berjalan cepat tiba-tiba sebuah gunung purba meletus. Letusannya sebanding dengan letusan Gunung Toba. Semua orang terlihat panik dan bertanya ada apa yang sebenarnya terjadi. Petugas kereta pun dengan sigap mengevakuasi penumpang keluar dari kereta menuju tangga darurat. Di tengah-tengah evakuasi itu terjadi gempa susulan yang menyebabkan para penumpang tidak selamat. Hanya tersisa Lail dan anak laki-laki berusia lima belas tahun, namanya Esok.

Keluarga Lail tidak ada yang selamat. Ia hanya memiliki Esok, orang yang baru dikenalnya, kini selalu berada di sampingnya dan menghiburnya. Lail dan Esok pun pergi ke pengungsian seperti yang lain. Dampak letusan gunung tersebut sangat dahsyat. Namun perlahan semakin membaik. Di saat itulah Lail dan Esok harus berpisah.

image source edited by me
 
Setelah Tere Liye menyampaikan buku ini akan terbit dengan judul Hujan dan blurb yang sederhana, aku langsung memasukkannya dalam daftar buku yang harus dibeli. Kemarin baru saja beli, dan saat membacanya ternyata jauh dari ekspektasiku yang awalnya aku kira berisi cerpen macam Sepotong Hati yang Baru dan Berjuta Rasanya.

Novel ini berbau romance yang dibalut science fiction. Makanya banyak deskripsi tentang benda-benda berteknologi canggih mulai dari terknologi layar sentuh dan hologram hingga mobil bisa terbang. Semuanya serba otomatis. Aku agak kesulitan membayangkan semua benda-benda itu. Perlu beberapa menit untuk membentuk imajinasi tersebut. Setting tempat tidak dijelaskan tepatnya di mana. Hanya sekadar sebuah wilayah yang memiliki Ibu kota dan terbagi ke dalam sektor. Alur cerita yang digunakan adalah maju-mundur. Akhir cerita dikemas dengan baik, aku sempat takut akan sad ending ternyata justru sebaliknya. Aku pun bisa bernapas lega :)
Tapi sesungguhnya, bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.
Karakter utamanya di sini adalah Lail dan Esok. Usia keduanya terpaut dua tahun. Lail adalah sosok yatim piatu yang menyayangi keluarganya. Semakin bertambah dewasa ia bisa belajar menerima kehilangan dengan cara mengabdikan diri untuk menolong orang-orang. Lail memiliki seorang teman, Maryam namanya. Ia seorang yang humoris berambut krebo dan menyenangkan, selalu berada di sisi Lail ketika sedang suka maupun duka. Dan Esok, pemuda yang berbakat dan terampil. Sebagai pembaca aku bisa merakan perasaan Lail ketika harus menunggu tanpa penjelasan yang pasti :')
Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan cinta itu sendiri. Rasa sukanya sulit disulam menjadi puisi oleh pujangga, sulit dilukiskan kuas sang pelukis, tak bisa dijelaskan oleh mesin paling canggih sekalipun.
Hidup ini juga memang tentang menunggu, Lail. Menunggu kita untuk menyadari: kapan kita akan berhenti menunggu.
Secara keseluruhan aku puas bisa menikmati cerita yang disuguhkan oleh Tere Liye. Selain membayangkan bagaimana masa depan yang akan datang, juga belajar untuk selalu menerima di setiap kehilangan, mencintai, menjaga sebuah persahabatan, menjaga bumi dan belajar untuk tidak mementingkan ego masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...